papa mama ini adalah perkawinan emas kalian< kini papa telah pulang ke Surga meninggalkan mama seorang diri. Kami selalu mengingat kau papa
Keluarga adalah suatu tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita untuk dikerjakan dan dinikmati. Oleh karena itu setiap mereka yang ingin berkeluarga harus berani Bertanggung jawab dalam berkeluarga dan Tuhan akan memberikan anugrah kepada mereka untuk menikmatinya.
Tuesday, June 14, 2011
Papa, aku kehilangan mu........
papa mama ini adalah perkawinan emas kalian< kini papa telah pulang ke Surga meninggalkan mama seorang diri. Kami selalu mengingat kau papa
Kematian………….!
Sebagai orang beriman kita percaya danmeyakini kematian adalah suatu jalan menuju ke kebahagiaan kekal yang telah Tuhan sediakan untuk mereka yang percaya, namun tetap saja ketakutan itu menghantui.
Kematian adalah keterpisahan, keterpisahan dengan segala sesuatu yang kita kecap didalam dunia ini. Kebahagiaan sementara yang Tuhan ijinkan kita reguk bersama keluarga yang kita bentuk, bersama lingkungan dimana kita hidup, keterepisahan inilah yang tidak di ingini oleh manusia kebanyakan.
Keterpisahan dengan orang –orang yang kita cintai, keterpisahan dengan segala sesuatu yang kita senangi, keterpisahan dengan segala benda duniawi yang menyenangkan yang kita kumpulkan membuat kita berat meninggalkannya di tambah lagi dengan sesuatu didepan yang kita tidak tahu, gelap hanya iman kepercayaan saja yang tau kemana setelah ini namun di rasa tidak “real” kasat mata, ini lah yang menakutkan manusia.
Mungkin kalau boleh saya katakana keterpisahan adalah keberatan pertama yang kita hadapi dari kematian itu. Saya baru kehilangan orang – orang dekat dengan diriku. Mertuaku meningga tahun lalu, dan pada Febuari lalu papa yang aku kasihi meninggalkan kami semua.
Kepergian mereka meinggalkan bekas yang dalam dimana seringkali aku merasakan seakan mereka masih hidup dan ada dekat dengan kami, aku sering menangis mengingat mereka karena kerinduan akan keterpisahan dari kematian ini. Waktu aku melihat foto foto papa, teringat aku akan masa bersama dengan beliau, dengan kegalakannya, kedisiplinannya dan ketegarannya. Sekarang dia sudah tidak ada meninggalkan segaris luka pedih tatkala mengingatnya.
Selang berapa lama sahabat baikku papanya meninggal dimana kala itu kami saling mendoakan papa kami masing masing kini kami berbagi duka dengannya. Kemarin aku menghadiri kematian papa temanku yang lainnya, segaris pernyataan hadir dalam diriku, angakatan diatasku satu persatu pergi, kami menggantikan posisi mereka tak lama lagi kamipun berbaris memenuhi panggilan sang ilahi.
Kematian………… kadang mengerikan karena memaksa kami berpisah dengan yang kami cintai, tetapi aku bersyukur kematian melepaskan diri dari derita dunia yang nestapa dan menyongsong kehidupan baru bersama TUHAN. Amin……
Kematian………….!
Sebagai orang beriman kita percaya danmeyakini kematian adalah suatu jalan menuju ke kebahagiaan kekal yang telah Tuhan sediakan untuk mereka yang percaya, namun tetap saja ketakutan itu menghantui.
Kematian adalah keterpisahan, keterpisahan dengan segala sesuatu yang kita kecap didalam dunia ini. Kebahagiaan sementara yang Tuhan ijinkan kita reguk bersama keluarga yang kita bentuk, bersama lingkungan dimana kita hidup, keterepisahan inilah yang tidak di ingini oleh manusia kebanyakan.
Keterpisahan dengan orang –orang yang kita cintai, keterpisahan dengan segala sesuatu yang kita senangi, keterpisahan dengan segala benda duniawi yang menyenangkan yang kita kumpulkan membuat kita berat meninggalkannya di tambah lagi dengan sesuatu didepan yang kita tidak tahu, gelap hanya iman kepercayaan saja yang tau kemana setelah ini namun di rasa tidak “real” kasat mata, ini lah yang menakutkan manusia.
Mungkin kalau boleh saya katakana keterpisahan adalah keberatan pertama yang kita hadapi dari kematian itu. Saya baru kehilangan orang – orang dekat dengan diriku. Mertuaku meningga tahun lalu, dan pada Febuari lalu papa yang aku kasihi meninggalkan kami semua.
Kepergian mereka meinggalkan bekas yang dalam dimana seringkali aku merasakan seakan mereka masih hidup dan ada dekat dengan kami, aku sering menangis mengingat mereka karena kerinduan akan keterpisahan dari kematian ini. Waktu aku melihat foto foto papa, teringat aku akan masa bersama dengan beliau, dengan kegalakannya, kedisiplinannya dan ketegarannya. Sekarang dia sudah tidak ada meninggalkan segaris luka pedih tatkala mengingatnya.
Selang berapa lama sahabat baikku papanya meninggal dimana kala itu kami saling mendoakan papa kami masing masing kini kami berbagi duka dengannya. Kemarin aku menghadiri kematian papa temanku yang lainnya, segaris pernyataan hadir dalam diriku, angakatan diatasku satu persatu pergi, kami menggantikan posisi mereka tak lama lagi kamipun berbaris memenuhi panggilan sang ilahi.
Kematian………… kadang mengerikan karena memaksa kami berpisah dengan yang kami cintai, tetapi aku bersyukur kematian melepaskan diri dari derita dunia yang nestapa dan menyongsong kehidupan baru bersama TUHAN. Amin……
Friday, July 16, 2010
Stop out Purwoketo
Hati kami sedih saat teman teman pelayanan kembali ke Jakarta sementara kami berdua suami istri harus tinggal karena tidak mendapatkan tiket balik. Dibalik kesedihan itu masih ada tugas bagi kami mendukung 2 rekan pelayanan yang tidak ikut pulang ke Jakarta karena melayani disana. Malam itu kami menyusun rencana bagaimana besok menghabiskan waktu seharian menunggu senja, karena pelayanan rekan kami adalah sore hari. Ibu Christiana yang menjadi motor pelayanan di Purwokerto mendorong kami untuk melihat ke daerah dimana banyak sekali jemaat yang merindukan sentuhan kasih dari saudara seiman. Akhirnya jadilah kami pagi itu bersama mulai melayani penduduk desa, sungguh suatu kesempatan yang menyenangkan juga bisa berada ditengah saudara seiman di daerah. Ada yang bergumul suaminya belum bisa diajak ke gereja tetapi sangat mendukung waktu pembelian tanah untuk gereja, Ada yang bergumul istri sedang merantau keluar negeri sementara suami mendapat sindiran dari masyarakat sekeliling dan butuh penguatan, ada yang butuh di doakan dan macam-macam. Kedatangan kami menyenangkan kami sendiri ternyata dalam kesempatan seperti ini kami masih bisa menjadi terang dan berkat bagi orang lain sungguh sangat menyenangkan. Kami mendapat kesempatan bicara pribadi lepas pribadi dan mendoakan mereka satu persatu. Tuhan memberkati. Sungguh ketelatan pulang menjadi berkat bagi kami berdua khususnya. Terima kasih Tuhan.
Monday, June 28, 2010
Generating Conversation

Bersyukur pada Tuhan kali ini Eunike Counseling Center diajak oleh satu lembaga counseling yang bekerja sama networking dengan Eunike Counseling center dalam beberapa event pada beberapa waktu yang lalu. Para counselor dari Eunike sangat dekat dengan hampir semua personil lembaga konseling Life Srping dan dikesempatan kali ini Life Spring memberi kesempatan kepada ECC untuk ikut ambil bagian dalam pembinaan para Counselor sebagai peserta dalam acara conference di Singapore akhir Juni ini. Suatu kesempatan yang indah yang Tuhan berikan melalui Life Spring, dan keterbukaan dari Lembaga counseling Life Spring untuk mengembangkan pelayanan counseling di Indonesia patut diacungkan jempol, mereka tidak berjalan sendirian kedepan tetapi mengajak lembaga lain bertumbuh bersama, sungguh berkat dan anugrah dari Tuhan.
Dari Eunike counseling center diwakili oleh counselornya yaitu Ev. Julimin Nagaputra, Ev. Lie Wei Jen dan Ev. Nani Priscilla
Melalui acara ini kami semua sungguh sangat terbekati dan di bekali untuk pelayanan di kemudia hari demikian juga membuka wawasan kami dalam pelayanan di bidang counseling.
Kiranya dengan segala berkat dan bekal yang telah di terima membawa kami semakin dipakai Tuhan. Terima kasih Tuhan.
Sebulan Mama meninggalkan kami
Hari terus berjalan, menapak tiada henti detik demi detik, menit demi menit, jam jam pun berlalu bahkan hari berlari meninggalkan jejak sebulan telah berlalu.
Sebulan Engkau telah kembali kepangkuan Bapa di Surga, sebulan Enkau telah meninggalkan kami semua. Masih terbayang kata-katamu: kamu tidak ingin pergi meninggalkan kami karena mau lebih lama bersama dengan kami, padahal waktu perpisahan itu kentara semaki mendekat. Hati kami berdegub menanti hari itu dan kaupun mengejar waktu untuk selalu meminta kami lebih sering datang menengokmu selagi bisa. Engkau adalah mama mertua yang perhatian dihari mendekati akhir hidupmu saat kau sakit menderita diantara kesadaranmu kita mengobrol, dan perhatianmu adalah pada kesehatanku padahal kamupun sedang berjuang dengan penyakit tua yang menggerogotimu.
Mama yang kami kasihi, teringat ketika kita bersama tinggal di Jakarta ditempat kami, dirumah yang kecil kita selalu bercampur bersama dikamar, kadang hatiku kesal ada saat merasa terganggu tetapi semua itu sekarang sirna dan tertinggal kenangan belaka.
Mama sebulan sudah kita berpisah, kami tahu Engkau berbahagia disana dengan penciptaMu dan berkumpul dengan papa dana koko cici yang telah mendahului kesana.
Ma saat kami akan melarung sisa fisikmu kelaut menjadi kenangan dalam hati kami yang tak akan lekang oleh zaman bahwa pernah ada didunia ini yang bernama Jap Siok Nio atau Nyonya Lie Wan Lung yang menjadi mama dari istriku dan mama mertuaku.
Selamat jalan mama, selamat menikmati kekekalan bersama Tuhan di Sorga, sampai kita bertemu kembali di sorga sana
Anak dan mantumu: Lie Weijen dan Julimin si Musafir Girang.
Sunday, November 29, 2009
Perkawinan Emas
Banyak orang bersyukur jika bisa mencapai usia perkawinan emas dalam kehidupan pernikahannya. Sehingga banyak orang merayakan hari ulang tahun pernikahan emas mereka.
Papa mamaku tercinta dengan berkat dari Tuhan mereka bisa melewati hari pernikahan emas mereka. Perjalanan hidup mereka tidaklah mudah, diawali pernikahan yang berlandaskan cinta kasih harus melewati pergumulan panjang dengan masalah ekonomi keluarga dan membesarkan kami anak-anaknya.
Dalam ketidak mampuan dan ketidak mengertiannya mereka harus kehilangan anak pertamanya yang dipanggil Tuhan dalam usia sangat belia, dan mereka tidak ingin mengingat itu dan mereka hanya merasa hanya memiliki 6 orang anak yang tersisa dari 7 anak yang dimiliki.
Dengan susah payah mereka mendidik dan memelihara kami, dan menjelang usia tuanya mereka kembali merasakan kesedihan luar biasa dengan meninggalnya adik kami yang tercinta tinggalah kami ber lima anak-anaknya.
Waktu terus berjalan kini usia mereka sudah lanjut. Papa sudah berusia 74 tahun dan mama 69 tahun, pemnyakitpun sudah mulai menjangkiti mereka.
Aku terus berdoa agar mereka bisa meliwati pernikahan emas mereka, karena di usia tua inilah mereka baru bisa merasakan hidup yang lebih baik dan mereka lebih lekat satu dengan yang lainnya sehingga mereka takut kehilangan pasangannya. Papa kini mengidap penyakit Porstate yang diduga menjadi Cancer sedang mama terserang jantung dan harus dipasang 5 ring. Ini yang membuat kami abak-anaknya ingin agar mereka bisa meliwati ulang tahun emasnya.
Hari itu tiba mereka tidak mau memestakannya tetapi lebih memilih berkumpul semua sekeluarga kandung dan makan dirumah dengan masakan mama.
Hari itu kami lalui dengan senang, melihat kebahagiaan mereka dan kelekatan mereka di masa tuanya. Hari masih terus berjalan dan kini mereka semakin takut kehilangan satu dengan yang lainnya kami hanya dapat berdoa agar mereka di beri kekuatan bila saatnya tiba. Tuhan memberkati.