Thursday, May 30, 2019

Antara Istri dan Mama

Masalah yang terjadi antara istri dan mama adalah masalah yang sering kali terjadi dalam kehidupan kebanyakan rumah tangga. Tidak sedikit rumah tangga yang berakhir dengan perceraian karena munculnya persoalan ini dalam rumah tangganya. Namun ada pula yang terus bergumul dengan persoalan ini sehingga rumah tangga mereka berjalan dengan terseok-seok, hidup tidak layaknya sebagai sebuah keluarga banyak perang dingin dan konflik didalamnya.

Apakah permasalahan yang sesungguhnya sehingga masalah ini menjadi begitu krusial dan terjadi di banyak keluarga. Umumnya karena permasalahan pengertian tentang pernikahan yang berurusan dengan perasaan. Maksudnya banyak mereka yang menikah tetapi tidak jelas akan konsep menikah secara kekristenan dan tidak tahu bagaimana menjalankan apa yang firman Tuhan katakan / role pernikahan yang di laksanakan. Permasalahan muncul tidak saja di sebabkan oleh mereka berdua suami istri namun juga melibatkan oran tua dan mertua dengan pengenalannya.

Berdasarkan pada Alkitab Perjanjian Lama pasal 2 mengenai konsep pernikahan di ayat 24 dan seterusnya bahwa suatu saat nanti mereka akan meninggalkan orang tua mereka dan bersatu dengan pasangannya untuk menyatukan diri menjadi satu daging dan apa yang disatukan oleh Allah ini tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Hal ini jelas menajarkan pada setiap manusia bahwa relasi yang paling lekang dan erat adalah pasangan kita. Karena ada saatnya kita harus meninggalkan orang tua kita dan bersatu dengan pasangan kita. Saat kita meninggalkan orang tua kita memberi kita kesadaran bahwa hidup saya kedepan adalah bersama dengan pasangan saya seumur hidup saya, jauh lebih panjang waktuya dibanding hidup dengan orang tuaku dulu, dan kita tidak dapat memisahkan diri dengan pasangan kita sampai maut memisahkan kita.

Banyak orang keliru dalam menanggapi konsep ini, Alkita tidak pernah mengatakan bahwa berarti kita putus hubungan dengan orang tua, karena ada ayat lain yang menyatakan kepada kita hormatilah ayah ibumu seumur hidupmu. Berarti ada perbedaan relasi yang terjadi sekarang antara saya dengan orang tua saya. Jika dulu saya adalah bagian dari anggota keluarga ayah saya dengan predikat anak sekarang saya adalah kepala dari keluarga saya sendiri dengan anak-anak saya kelak, dan relasi saya sekarang dengan orang tua saya adalah relasi antar 2 keluarga. Konsep ini juga mempunya arti bahwa kita telah menjadi dewasa  dan lepas dari pengaruh orang tua, kita sudah harus bisa menjalankan keluarga kita sendiri, lepas dari pengaruh campur tanga orang tua, namun orang tua  atau mertua masih menjadi mentor yang boleh memberikan masukkan kepada kita sebagai orang yang kita hormati.

Konsep diatas tidak hanya harus dimengerti oleh pasangan suami istri ini saja tetapi juga dimengerti oleh mereka sebagai orang tua maupun mertua. Dengan pengertian yang benar dan jelas maka permasalahan diatas akan sangat bisa dihindari.

Permasalahan umumnya terjadi tatkala berkenaan dengan perasaan, perasaan bahwa orang tua yang sudah melahirkan kita dan memelihara kita maka haruslah kita berbakti kepada mereka. Dalam hal ini benar kita harus berbakti dan menghormati serta mencintai mereka, namun harus hati-hati tatkala berbenturan dengan relasi keluarga inti kita yaitu dengan pasangan kita. Kita tidak bisa untuk menjalin relasi agar terlihat menghormati orang tua lalu kita mengabaikan pasangan kita dan menjadikan pasangaan kita orang nomor dua. Ingat Tuhan menyatukan kita dengan pasangan kita menjadi satu daging yang lekat dan paling lekat berarti dalam hidup kita tidak ada yang terpenting selain pasangan kita sendiri.

Orang tua perlu menyadari bahwa anak mereka sudah berkeluarga dan bersatu dengan pasangannya dan tidak lagi boleh mempengaruhi anaknya dan kehidupan keluarga anaknya. Mereka tidak bisa menekankan kepada anak untuk taat kepada orang tua jika tidak durhaka hanya untuk memenuhi impiannya dalam kehidupan ini. Sebaliknya anak-anak tidak bisa karena sedemikian eklusifnya hubungan dengan pasangan lalu mengabaikan orang tuanya dan tidak memperdulikan orang tuanya. Disinilah kita memerlukan kebijaksanaan dari Tuhan untuk bagaimana berlaku menyikapi hal ini.
Alkitab sebenarnya sudah mengatur bagaimana seharusnya kita hidup baik dalam berkeluarga maupun dalam kehidupan sosial kita. Pengertian dan pengenalan firman akan membantu kita menjalani hidup ini dan menghindari semua polemic yang mungkin saja terjadi.


Thursday, May 16, 2019

Menyikapi masa Pensiun bagi Rohaniwan

Pensiun adalah sebuah kata yang cukup menggetarkan bagi kebanyakan orang. Masa pensiun dirasa seakan masa yang penuh dengan ketakutan dan kemunduran di segala bidang. Banyak orang tidak siap memasuki masa pensiun ini karena beberapa hal yaitu:
·      Masa dimana seseorang akan kehilangan kekuasaannya
·      Masa dimana seseorang dipaksa untuk menerima kondisi bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan sudah harus diganti oleh mereka yang lebih muda
·      Masa dimana tubuh sudah mulai melemah dan mulai banyak berurusan dengan sakit penyakit
·      Masa dimana seseorang sedikit demi sedikit mulai dilupakan akan keberadaannya.
·      Masa dimana orang tersebut kemungkinan memerlukan orang lain dan tidak lagi bisa mandiri
·      Masa dimana ia mulai merasa kesepian
·      Dan banyak hal menakutkan lainnya yang masih bisa kita telaah dan kita rasakan.

Perasaan memasuki usia pensiun ini mengusik semua lapisan masyarakat siapapun dia, tidak terkecuali seorang rohaniwan.

Mari kita perhatikan masalah pensiun ini dengan keberadaan seorang rohaniwan. Rohaniwan adalah suatu predikat yang diberikan kepada mereka yang mengabdikan dirinya untuk Tuhannya, melayani Tuhan dengan seluruh waktu hidupnya dan itu bukanlah suatu profesi.

Menjadi rohaniwan adalah suatu panggilan, karena tidak serta merta setiap orang bisa menjadi seorang rohaniwan tetapi melalui suatu proses panggilan dalam hidupnya untuk menyerahkan waktu dan hidupnya hanya untuk melakukan pekerjaan TUhan dan melayaniNYA.

Didalam panggilannya inilah seorang rohaniwan memasuki institusi dimana ia terpanggil, misalnya di bidang pendidikan, ia dapat menjadi seorang dosen teologia di institusi sekolah teologia, seorang guru agama Kristen di sekolah-sekolah Kristen, di bidang penggembalaan ia akan masuk ke institusi gereja, ada yang terpanggil menjadi pendeta yang menggembalakan, ada yang menjadi penginjil atau seorang pengajar didalam gereja atau dalam bidang-bidang tertentu lainnya. Semua itu adalah predikat dalam panggilannya, sekali lagi bukan profesinya.

Jadi sebagai seorang rohaniwan ia menjalani predikatnya sebagai hamba yang melayani Allah di institusi yang Tuhan tempatkan baginya dan disitulah ia mengembangkan semua panggilan dan talentanya dalam pelayanannya. Karena ia ada dalam satu institusi dalam melayani Tuhan maka ia akan mendapatkan juga tunjangan utuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Dalam hal ini memang ada sedikit perbedaan dengan mereka yang bekerja dalam satu instansi untuk berkarier dengan profesi tertentu, maka imbalan yang mereka dapatkan adalah upah dari profesi mereka untuk apa yang mereka lakukan. Dan karier ini dapat terus di kejar utuk mendapatkan upah yang lebih besar sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam hal ini sedikit berbeda dengan panggilan sebagai seorang rohaniwan. Yang dikejar oleh mereka  para rohaniwan bukanlah profesi tetapi maksimal pelayanannya yang efektif untuk menjangkau mereka kepada Kristus.

Jika kita melihat hal seperti ini maka seorang Rohaniwan seharusnya tidaklah memikirkan mengenai upah. Mereka yang duduk dan berwenang  dalam instansilah yang memikirkan kebutuhan hidup mereka dan mencukupinya. Oleh karena itu seorang Rohaniwan berbeda dengan seorang professional secular yang mengejar materi untuk mencukupi kehidupannya.

Berdasarkan hal ini maka tatkala seorang rohaniwan di suatu instansi memasuki usia pensiun akan menghadapi pelbagai pergumulan untuk menyiasati memasuki usia pensiun itu. Rohaniwan juga akan banyak memikirkan bagaimana kehidupannya kelak jika memasuki masa itu, bagaimana kehidupan anak-anak, study dan hidup mereka sehari-hari. Masa inilah masa yang penuh tantangan. Mereka bisa saja tergeser dari panggilannya dan menempatkan dirinya dan predikatnya kearah profesi dan mencoba untuk memenuhi lumbung-lumbungnya sebagai persiapan di masa pensiun nanti.

Seorang rohaniwan itu adalah predikat, panggilannya dan tidak berkesudahan, tidak ada batas masa berlakunya sampai Tuhan memanggil mereka. Yang membatasi adalah keterlibatannya dalam suatu instansi yang menaunginya. Seorang rohaniwan harus menyadari itu adalah panggilan dari Allah dan Allahlah yang akan terus menjaga dan memelihara hidupnya. Walaupun ia telah menyelesaikan tugasnya dalam salah satu instansi itu bukan berarti predikatnya sebagai rohaniwan selesai, ia tetap menjalani panggilan pelayanannya dalam seluruh hidupnya. Yang membedakannya adalah tidak lagi mendapat tunjangan kehidupan dari instansi tersebut dan inilah sesungguhnya yang menakutkan bagi para rohaniwan, bagaimana mereka harus meneruskan hidupnya?

Sebagai seorang rohaniwan maka seumur hidup harus selalu mengingat panggilannya dan belajar selalu hidup mencukupkan diri dengan apa yang Tuhan beri, dalam kesederhanaan, kecukupan, tidak berkemewahan dan mengikuti arus dunia. Walau kadang-kadang hal itu tidak dapat dihindari dalam pelayanan sehari-hari saat melayani di tempat tertentu dan orang-orang tertentu seorang rohaniwan akan menikmati banyak kemewahan namun seharusnya kita harus selalu sadar bahwa itu bukan tempat kita, itu hanyalah anugrah yang Tuhan beri bisa kita cicipi dalam hidup ini, namun sesungguhnya kita hanyalah alat ditanganNYA.

Oleh karena itu sebagai sesama rohaniwan sayapun ingin terus belajar melihat panggilan Tuhan dalam hidupku dan belajar menerima keberadaanku yang adalah alat di tangan Tuhan yang kadang Tuhan beri kenikmatan, kemewahan namun seharusnya kita justru harus hidup dalam kesederhanaan dan kecukupan ( humble and simplicity). Sikap seperti inilah yang akan memberi kita kemampuan untuk menghadapi masa pensiun kita kelak.

Bahwa kedudukan saya sekarang itu bukan apa-apa sehingga tidak perlu saya pertahankan namun saya harus memiliki hati siap untuk melepaskannya kepada mereka yang muda dan lebih berkemampuan dari kita. Menerima diri bahwa kita sudah harus melepaskan tongkat estafet ini dengan hati leluasa dan bangga bahwa kita sudah mewariskan kepada generasi penerus kita suatu contoh teladan pelayanan yang baik. Kita boleh bersyukur selama melayani Tuhan sudah TUhan ijinkan menikmati beberapa hal kemewahan atau kenikmatan namun sesungguhnya itulah anugrah dan saatnya kita kembali kepada kita yang sesungguhnya menikmati hidup bersama Tuhan dalam kesederhanaan.

Mari kita bersama terus mengingat akan panggilan kita dan percaya Tuhan akan pelihara kita, yang penting janganlah kita lupa siapa kita dan terus ingin hidup diatas, akan tiba waktunya orang akan perlahan melupakan kita, melupakan siapa kita, apa yang telah kita lakukan namun ingatlah Tuhan tidak pernah melupakan kita. Oleh karena itu marilah kita mengakhiri semua pelayanan panggilan kita dengan baik. Tuhan tidak melihat awal panggilan pelayanan kita tetapi Tuhan melihat bagaimana kita mengakhiri perjalanan pelayanan kita.


Ev. Julimin Nagaputra M.Min 

Monday, December 17, 2018

Menikmati kebersamaan

Dengan semakin bertambahnya usia seseorang semakin bertambahnya pengalaman hidupnya dan juga kenangan dalam relasinya didalam perjalanan hidupnya.
Tahun ini sudah hampir mendekati akhir dari 2018, segala rencana muncul untuk mengisi kenangan diakhir 2018 ini.

Aku sangat bersyukur kepada Tuhan dapat menikmati hidup sampai saat ini dimana setelah mengalami sakit yang cukup berat dan meliwati masa kritis, ini adalah kesempatan ke 2 yang Tuhan berikan kepadaku.

Sejak peristiwa itu banyak hal yang kulalui ku kenang baik baik, dan setiap kesempatan selalu berusaha mengambil sebagai kenangan dalam hidup yang tidak boleh di sia-siakan.

Di Desember ini aku ingin sekali mengunjungi kakak sepupuku yang sedang sakit Cancer di Macau dan juga ayahnya, yang semasa dulu begitu dekat dengan aku kini sedang sakit tua. Ada kerinduan berjumpa dengan mereka dan semua kenangan masa lalu bersama dengan mereka dan almarhumah tanteku terbayang jelas dimata sehingga semakin menambah keinginan untuk bertemu. Karena aku merasa waktu tidak ada seorangpun yang tahu, selagi ada kesempatan maka ambil kesempatan itu.

Bertepatan dengan itu dengan majunya teknologi aku tersambung kembali dengan teman teman semasa SD dan SMP dan berulang kali terjadi kontak dan saling mengunjungi. Inipun merupakan anugrah luar biasa yang Tuhan ijinkan sehingga kembali merajut pertemanan dengan teman masa kecil ini.
ada kerinduan dari teman teman untuk bisa mengadakan perjalanan bersama sambil mengenang masa persahabatan maka tercetuslah akan mengadakan perjalanan reuni.

Tuhan sungguh baik tujuan yang di pilih oleh teman teman adalah Hongkong dan Macau, berarti aku dapat menikmati ke duanya, reuni bersama dengan teman sekaligus mengunjungi Om dan sepupuku yang sedang terbaring sakit, singkat kata akhirnya Tuhan ijinkan semua itu dapat aku alami dan nikmati.

Terima kasih Tuhan untuk semua pertemanan dan kesempatan yang Tuhan ijinkan boleh aku nikmati dalam hidup ini, berkati kami semua dan juga untuk kesehatan kami semua.

amiiiiiiin.








Friday, September 7, 2018

Menghadapi masa Pensiun


Masa kehidupan manusia sangat cepat berlalu,  masa kanak dan remaja serasa belum lama terjadi, masih terlintas jelas detail peristiwanya namun tatkala kita sadari ternyata sudah berlalu sekian puluh tahun lalu.

Setiap jenjang usia kita mengalami perubahan perubahan situasi kehidupan, perubahan yang terjadi ini bisa berdampak positif maupun negatif, yang pasti menimbulkann krisis.

Banyak orang berusaha mempersiapkan setiap masa dalam kehidupannya namun tidak semua dapat di prediksi dan tidak semua persiapan dapat memenuhi semua harapannya.

Satu hal krisis yang acapkali menimpa dalam semua keluarga adalah masalah pensiun. Masa pensiun memang tidak semua sama tahun usianya, namun secara umum mereka masuk usia pensiun di usia 55 tahun, namun ada yang pensiun di usia 65 tahun. Dengan demikian apa yang harus dipersiapkan menghadapi usia pensiun ini.

Kebanyakan orang mempersiapkan materi untuk semua kemungkinan masa pensiunnya, namun tidak semua orang dapat mempersiapkan diri dalam hal materi, khususnya bagi mereka yang hanya menerima gaji bulanan untuk mencukupi hidupnya. Mereka hanya menyisakan dari gaji mereka untuk masa depan ini, namun apakah ini cukup untuk masa pensiun mereka. Inilah yang seringkali menakutkan bagi kebanyakan orang.

Bagi mereka yang berkelimpahan atau cukup secara materi mungkin mereka siap untuk hal materi, namun mereka seringkali justru diperhadapkan dengan masalah emosional atau psikologis mereka, yaitu masalah penghargaan diri dan kedudukan dimata masyarakat. Mereka takut sekali kehilangan pengaruh di masyarakat dan posisi mereka dalam masyarakat.

Masa pensiun merupakan momok bagi kebanyakkan orang, namun apakah memang harus ditakuti dan tidak siap memasuki masa pensiun ini. Semua kembali kepada diri kita sendiri dan panggilan kita dalam kehidupan didunia ini.

Pensiun dapat dipersiapkan, namun persiapan masa pensiun ini tidak hanya untuk kita pribadi saja,  namun harus dipersiapkan bersama pasangan kita. Kita harus mempersiapkan diri bersama dengan pasangan kita dalam segala sesuatunya.

Beberapa persiapan yang harus dilakukan adalah:
1.     Menerima realita kehidupan bahwa saatnya kita harus mundur dari segala sesuatu kesibukkan, tongkat estafet harus di serahkan pada generasi muda.
2.     Mempersiapkan hati  akan kehilangan banyak hal, misalnya kekuasaan, kedudukkan, penghargaan  sekaligus penghasilan.
3.     Bersama pasangan siap menerima perubahan yang akan terjadi dalam relasi mereka.
4.     Siap menghadapi gesekkan karena banyak waktu akan di lalui bersama dengan pasangan setiap harinya.
5.     Mulai merencanakan bagaimana meliwati hari hari bersama dengan pasangan dan berbagi tugas masalah di rumah.
6.     Merubah gaya hidup yang sudah terbangun selama ini, menghitung setiap rupiah yang harus dikeluarkan.
7.     Tidak menaruh harapan kepada anak-anak karena akan menimbulkan kekecewaan besar.
8.     Mendekatkan diri kepada sang pencipta dan melayaniNYA.

Demikian sedikit tips yang bisa kita pikirkan dan persiapkan dalam menghadapi masa pensiun ini, jangan melulu meletakkan dalam hal materi tetapi justru hal hal moril dan psikologis yag akan banyak mengganggu kehidupan kita. Masalah materi bukan tidak menjadi masalah namun mungkin masih bisa disiasati dengan gaya hidup simplicity mencukupkan diri dengan apa yang ada
Tuhan memberkati

Ev. Julimin Nagaputra. M.Min.

Tuesday, February 27, 2018

kesulitan Mencintai

Pertanyaan yang akan kita renungkan adalah: 
Manakah yang lebih baik, mencintai ataukah di cintai?
Pilihan dari jawaban ini ternyata memberikan implikasi dan pemikiran yang cukup luas dalam kita berelasi dengan pasangan.
Awal sebelum masuk dalam pernikahan, aku pernah berpikir lebih baik saya akan menikahi seorang wanita yang mencintai saya dibanding dengan orang yang saya cintai tetapi tentu saja masih dalam kategori yang saya sukai. 
Kenapa saya berpikir secara demikian pasti ada latar belakangnya. Saat saya masih muda belia, saya termasuk seorang yang rendah diri dan pemalu. Sulit sekali saya mengungkapkan perasaan senang saya pada lawan jenis secara verbal saya hanya berusaha menunjukkan perasaan senang saya dengan sedikit memberi perhatian kepadanya, namun seringkali perhatian ini tidak terperhatikan olehnya bahkan tatkala ada seseorang yang juga sedang melakukan pendekatan padanya maka pasti saya akan mundur teratur dan merasa sedih. Seiring dengan pertumbuhan hidupku yang terkontaminasi dengan kenakalan pemuda metropolitan semakin membawa aku rendah diri terhadap lawan jenis. Perasaan rendah diri ini tertutupi oleh kepandaianku dalam bergaul dan memiliki banyak sekali sahabat baik sejenis maupun lain jenis. Dan mulai saat itu yang ada dalam diri saya adalah pemikiran bahwa saya hanya akan mengasihi dan mencintai dan menikah dengan seorang wanita yang mengasihiku dan mencintaiku apa adanya dan saya akan sungguh sungguh dengannya, itu saja pemikiranku.
Namun sebaliknya saya berjumpa dengan seorang rekan yang sedang mengeluh, betapa ia mempunyai seorang pacar yang sangat mencintainya, saking mencintainya sahabatku itu merasa teranam semua kebebasannya. Setiap hari di perhatikan, di tilpon, ditanya ini dan itu, pergi dengan siapa dan berteman dengan siapa bahkan sampai memakai baju apapun diperhatikan dengan sangat oleh si Pacar. Akibatnya ia merasa sangat tidak suka dan terintimidasi dan terkekang. pemikiran bagiku jadi sebaiknya bagaimana? Lebih baik mencintai atau dicintai.
Mengacu kepada kehidupan manusia yang diciptakan oleh Allah segambar dan serupa denganNYA. Allah adalah kasih, manusia diciptakan dalam kasih dan kasih Allah ada dalam diri ciptaanNYA sehingga ciptaan ini mempunyai kemampuan untuk mengasihi. Kita di haruskan mengasihi Tuhan Allah dan juga sesama kita manusia. Kita harus mengasihi dengan kasih dari Allah.
Dengan pengertian ini diaplikasikan dalam kontak berelasi dengan pasangan kita. Berarti saya harus belajar mengasihi dan juga sekaligus dikasihi. Aku dikasihi oleh Allah dan dengan kasih Allah aku mengasihi orang lain. Aku mengasihi pasanganku dan pasanganku mengasihiku karena kami berdua saling mengasihi maka dampaknya kami berdua juga akhirnya menerika dikasihi oleh pasangan masing-masing. 
Dosa menjadi masalah yang paling merusak esensi kasih itu. Sejak dosa ada dan merongrong kasih itu sehingga manusia tidak lagi mempunyai kasih yang murni. Kasih manusia sangat dipengaruhi seberapa saya suka dia, seberapa dia menyenangkan saya, kasih yang mempunyai motivasi yang salah. Mungkin motivasi tidak salah namun chemistry perasaan itu sangat berperan.
Manusia dalam dosa kebanyakan mengasihi dengan alasan karena....... , bukan lagi mengasihi walaupun..........
Inilah pergumulan kita dalam berelasi dalam rumah tangga. Kesulitan kita mencintai pasangan kita karena dia tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan dan ingini. Pergumulan ini seharusnya muncul dalam masa pacaran bukan masa sudah berumah tangga. Setelah berumah tangga tujuan kita adalah satu yaitu menyatukan diri menjadi sedaging dan melakukan pekerjaan yang Allah sudah siapkan untuk keluarga kita. Maka konsekuensinya adalah sesulit apapun yang harus ada adalah, Aku mengasihi pasanganku walaupun Ia tidak sesuai dengan apa yang aku mau, walaupun ia sekarang tidak lagi secantik / seganteng dulu, walaupun ia tidak sesehat dulu atau apapun juga.
Itulah perjuangan kita yang hanya dapat kita lakukan dengan pertolongan KASIH dari Allah. Kasilah Allah dan biarlah kasih ALLAH bekerja dalam diri kita untuk mengasihi pasangan kita dan orang lain.

Wednesday, January 31, 2018

Peristiwa gagal Ginjal: Setelah Transplant hingga saat ini

10 bulan sudah berlalu peristiwa transplantasi ginjal ku yang berhasil dilakukan di Singapore di rumah sakit Mount elizabeth, namun perjalanan hidup berkenaan dengan kesehatan ginjal ini belumlah berakhir. Transplantasi ini memang merupakan mujijat yang Tuhan berikan kepadaku, dari segi apapun yang kulihat rasanya mustahil namunn itulah yang terjadi Tuhanku Luar Biasa!!!!!!
Keberhasilan pencangkokan ginjal ini harus di pelihara dan dijaga seumur hidup dan harus mawas diri. Memang aku sudah terlepas dari proses cuci darah namun tidak berarti aku sudah lepas segalanya, aku masih harus meminum obat seumur hidupku.
Awal setelah transplantasi aku harus kontrol ke dokter dua hari sekali sehingga tidak memungkinkan aku pulang pergi ke Singapore dan akhirnya aku menetap di Singapore selama 2 bulan. selama dalam proses penerimaan dan adaptasi Ginjal dengan tubuhku ternyata aku masih mengalami sedikit penolakkan sehingga dokter memberikan obat tambahan dan suntikkan yang terus di monitor oleh dokter tersebut, dan aku harus menjalani 2 hari sekali check laboratorium untuk melihat hasilnya dan pemeriksaan lab ini memerlukan biaya yang sangat besar.  bersyukur setelah liwat beberapa minggu akhirnya tubuhku dapat menerima ginjal tersebut dan mulailah berkurang kunjungan kedokter menjadi seminggu sekali lalu berlanjut 2 minggu sekali, karena 2 minggu sekali dan masa sewa rumah di Singapore selama 2 bulan telah selesai maka kami pulang ke Jakarta.
Selama beberapa bulan kami harus bulak balik Jakarta Singapore untuk memeriksakan diri, pernah aku mengusulkan untuk memeriksa lab di Jakarta saja dan hasilnya saya bawa ke Singapore namun di tolak oleh team dokter disana, maka kami tetap memeriksakan diri ke Singapore dengan biaya Lab yang sangat aduhai.....
Tuhan luar biasa memberikan banyak kesempatan dan kemurahan padaku, sampai pada satu saat aku merasa berat sekali untuk membeli obat di Singapore maka dokter mengijinkan aku membeli di Jakarta dan di beritahu bahwa saya bisa mengajukan ke BPJS di Indonesia agar bisa dapat gratis dan sisa obat lainnya boleh beli juga di Jakarta.
Begitu mendengar kabar baik ini maka saya langsung menggunakan BPJS ku untuk mulai ke puskesmas dan rujugan ke rumah sakit Cipto dan akhirnya aku memeriksakan diri ke Cipto dengan dokter Endang Susalit dan berlanjut ke poli ginjal di RS Ciptomangun kusumo. puji syukur semua berjalan dengan lancar. Namun demikian 3 bulan sekali aku masih memeriksakan diri ke singapore ke dokter Lye way Chong dan ke dokter Tan Eng Chon.
Hal yang meresahkan kadang di rumah sakit Cipto kami bertemu dengan banyak orang yang sependeritaan namun seringkali mendengar cerita cerita bahwa ada yang baru sekian tahun rusak kembali, ada yang beberapa bulan dan berita negatif ini sungguh meresahkan namun heran selama di Singapore justru aku mendengar yang sebaliknya ada yang sudah diatas 10 tahun ada yang sudah 18 tahun. akhirnya semua kembali kepada kita bagaimana merawat diri dan jaga kesehatan.
Untuk mereka yang terkena gagal ginjal jangan menyerah, hidup ini ada lah perjuangan mungkin sekali kita harus berjuang dengan cuci darah jalani dan jangan takut Tuhan berserta dan memberi penghiburan

Tuesday, January 23, 2018

PERISTIWA GAGAL GINJAL 5: PROSES TRANSPLANTASI

DOCTOR TAN ENG CHON
UROLOGI dari Mount Elizabeth Hospital yang menangani berjalannya Operasi Transplanatasi Ginjal ku pada tanggal  21 Maret 2017
doctor yang sangat menolong dan baik hati serta ramah merawatku sampai dengan hari ini. Beliau seorang Kristen yang baik hati dan menjalankan kasih dari Kristus dalam praktek kedokterannya.


DOCTOR LYE WAY CHONG
Seorang nefrology ahli ginjal yang menangani aku selama sakit ginjal. dan beliau lah yang memimpin 
jalannya operasi tranplantasi ginjal. Beliau masih menangani hingga saat ini.
Doctor Lye Way Chong inilah seorang dokter yang luar biasa yang melakukan transplantasi ginjal sekalipun berbeda golongan darah ia mampu melakukannya sungguh talenta yang sangat luar biasa untuk menolong manusia yang membutuhkan.

Proses:
Setelah kami mempersiapkan semua hal yang diperlukan kami mencari waktu yang tepat untuk melakukan jalannya operasi. Saat kami berangkat kami ditemani oleh teman baik dari Gereja yang bernama Jusni Rijab dan seorang lain teman baik dari Yayasan Eunike bernama Anastasia Grace.
Sebelum kami berangkat beberapa orang dari gereja dan dari Yayasan Eunike mengupayakan tempat tinggal yang dapat kami gunakan selama kami berobat di Spore yang diperkirakan membutuhkan waktu 2 bulan pemulihan. kami di cari kan tempat yaitu di daerah Potong Pasir.
Malam itu kami berangkat ke Singapore dan tiba di Potong Pasir. Grace dan kami berdua tinggal di Potong Pasir sedangkan Jusni Ia ke Hotel karena masih ada yang harus dikerjakan berkenaan dengan urusan kantornya.
Ke esokkan harinya kami pergi ke Klinik Lye Way Chong di Lucky plaza lantai 5, kami melakukan serangkaian pemeriksaan dan diharuskan melakukan lagi Haemodialysys selama 5 jam. mereka semua pergi meninggalkan aku di ruang cuci darah. Sementara itu pendonor sudah masuk ke rumah sakit dalam rangka persiapan juga disana. Selesai melakukan cuci darah kami langsung pergi ke rumah sakit Mount Elizabeth dan langsung masu ruangan yang sudah disiapkan untuk beristirahat karena operasi akan dilakukan sore menjelang malam. Saat itu tidak ada sedikitpun rasa takut atau gentar. Perasaan yang ada adalah keinginan untuk sembuh yang sangat besar.
Beberapa family, teman dekat bahkan beberapa majelis dari gereja datang menjenguk dalam persiapan operasi ini. Mereka semua menghibur dan memberikan kekuatan agar tidak gentar. Hingga saatnya saya mulai di dorong masuk ke ruang operasi

saat memasuki lorong itu tiba-tiba ada perasaan tegang, dan aku memegang erat tangan istriku tanpa terasa air mata mengalir di pipi dan kulihat wajahnya dengan dalam pikiranku tiba tiba membayangkan mungkin ini kali terakhir aku memandangnya, lalu aku melihat sekeliling dan juga sahabat yang mengantarku.
Aku diletakkan di lorong sambil menanti kedatangan dokter yang akan mengoperasikan diriku
Setelah sekian lama menanti akhirnya datang lah para dokter yang akan menangani operasiku. saat itu yang aku tahu ada dokter Lye, Dokter Tan, dan Dokter Rauf. saat itu aku melihat jam sekitar 17.30 aku melihat jam karena aku ingin sekali tahu mungkin sekali itulah jam kematianku, itulah pikiran yang ada. Lalu aku hanya mendengar dokter mengatakan baik kita mulai dan tidak berapa lama aku sudah tidak ingat apa-apa lagi