Awal tahun umumnya semua orang berusaha untuk menyusun semua rencananya, apa yang ingin di capainya dan apa yang harus dikerjakan, yang dikejar dalam jangka pendek lalu apa yang harus dilakukan dalam mempersiapkan semuanya untuk jangka panjang kehidupan ini.
Hampir kebanyakan orang akan bermuara pada kehidupan dalam dunia ini dalam arti hal materi yang dapat di capai, atau dalam bahasa keseharian adalah mengejar kekayaan. Banyak orang merasa kekayaan itu adalah sumber kebahagiaan. Kedudukan, kekayaan dan penghargaan dari orang lain merupakan suatu tujuan yang selalu dikejar oleh setiap umat manusia dalam usia apapun juga.
Kekayaan, kedudukan, penghargaan orang semua itu adalah masuk kedalam polemik kehidupan manusia. Jangan dikira jika kita sudah mendekati hal itu maka kita sudah bahagia. Beberapa cerita dari mereka yang saat ini cukup berada secara materi dan kedudukan merasa hidupnya dulu jauh lebih bermakna dan berbahagia.
Seorang yang sudah berhasil dalam hidupnya dan aku kenal cukup baik, di awali dengan kerja keras dan tidak memiliki apa apa, harus naik angkot pergi bekerja, lalu di tolong oleh rekan lain sehingga bisa bekerja dalam sebuah pabrik, dan berkat kerja kerasnya dia boleh mendapat kedudukan sebagai supervisor saat itu. rekan ini mulai berpacaran dan kemudian menikah, Ia tidak memiliki apa-apa, pacaranpun mereka naik bajaj waktu itu, menikah menyewa sebuah rumah kecil tanpa kursi ruang tamu, hanya kasur untuk mereka tidur dan perabot sekedarnya.
Kerja dan kerja, suami istri akhirnya mulai menjadi manager di masing-masing usahanya dan mulai bisa memiliki mobil dan dengan suka cita mereka liwati hari mereka. apakah mereka bahagia ternyata tidak. Mereka tidak puas dengan semua itu dan mereka kejar terus dan jadilah mereka sukses dalam pekerjaan mempunyai mobil mewah untuk masing-masing dan liburan keluar negri, apakah mereka bahagia? ternyata tidak.....!
Mereka merasa mereka semakin hari semakin jauh satu dengan lainnya, istri lebih sering curhat dengan supirnya karena dialah yang mengantar kemana saja dia pergi, suami lebih ke sekretarisnya karena memang begitu dikantor dan urusan pekerjaannya, hidup mereka semakin jauh. Mereka merasakan dulu waktu masih pacaran mereka himpitan naik bajay menyenangkan ketika di bayangkan sekarang, karena banyak senda gurau. Saat ini senda gurau jarang dilakukan. semua mempertahankan statusnya dan kedudukannya dengan terus bekerja keras dan mengorbankan relasi berdua.
apakah kekayaan menjadikan bahagia...... ternyata tidak! memang kekayaan memberikan banyak kemudahan namun tidak menjamin memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan harus diisi dengan kerja keras dalam kita menjalin relasi. Kebahagiaan sangat berurusan dengan spiritualitas kita. Dunia tidak akan pernah memberi kepuasan maka kebahagiaan tidak pernah tercapai. Spiritualitas mendekatkan kita dengan pencipta maka akan memberi kita kesadaran hidup yang terpenting yaitu simplicity dan contenment
jadi kekayaan dan kebahagiaan akan dicapai dengan kita merasa cukup dan bisa menghidupinya didalam anugrah TUHAN.
Keluarga adalah suatu tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita untuk dikerjakan dan dinikmati. Oleh karena itu setiap mereka yang ingin berkeluarga harus berani Bertanggung jawab dalam berkeluarga dan Tuhan akan memberikan anugrah kepada mereka untuk menikmatinya.
Friday, January 10, 2020
Tuesday, January 7, 2020
Suka duka seorang konselor Kristen
Pelayanan
konseling melelahkan karena meliputi perasaan dan juga pkiran. Perlu penguasaan
diri yang kuat agar tidak sampai hanyut dalam pelayanan terhadap konselee kita dan kita harus tegas memberikan
masukkan dan membuka wawasan klien kita agar mereka bisa melihat permasalahan
mereka dengan jelas dan akhirnya bisa mengambil keputusan lebih tepat bagi
hidupnya.
Sebagai
seorang konselor seringkali harus menghadapi keletihan fisik dalam mendengarkan
pemaparan masalah oleh Klien dan sering kali juga klien itu hanya ingin
mendapat persetujuan akan keputusan atau pendapatnya saat melakukan konseling.
Dia akan menjadi sanga marah jika ternyata kita tidak sepaham atau menyetujui
caranya dan akhirnya bisa berbuntut macam- macam.
Pernah
dalam pelayanan seorang konselee tidak bisa menerima pendapat orang lain yang
bertentangan dengan prisnipnya yang memang salah secara kebenaran namun dia
tidak bisa melihatnya sehingga menjadi sangat marah dan mengancam, itulah salah
satu bagian dukanya.
Hal lain
pernah seorang konselee datang dan mengeluh Panjang lebar tentang hidupnya
yang terlunta-lunta, kesulitan keuangan
dan lainnya. Secara pemahaman sering kali konselor menyadari harus menjaga
perasaan, namun serng kali sulit juga
untuk tidak melibatkan perasaan iba dan akhirnya memberi bantuan pinjaman
materiil. Tidak di beri rasanya kasihan waktu akan kita beri, hati kecil
menyadari bahwa ini ada salahnya karena mungkin sekali kita tertipu oleh cara
mereka. Akhirnya tetap di berikan dengan pemikiran jika ternyata benar dia
membutuhkan akan sangat menolong, namun jika tertipu karena memberikan ini
urusannya dengan Tuhan. Pemikiran ini melegakan konselor untuk memberikan,
Namun dalam pengalaman beberapa kali
ternyata memang ada juga yang memang menipu dengan modus seperti itu.
Yang
menyedihkan lainnya adalah tatkala konselee menyerah dan tidak lagi mau
berjuang. Mereka mungkin tidak merasa perlu lagi berjuang sementara konselor
seringkali melihat masih ada celah yang bisa di bereskan asal mereka mau
berjuang, maka tatkala mereka mundur maka kesedihan akan menerpa hati seorang
konselor.
Yang paling
menyedihkan adalah mereka tidak merasa perlu untuk konseling. Banyak masyarakat
merasa konseling itu adalah untuk mereka yang sedang sakit ada masalah besar
dalam rumah tangganya. Ini adalah konsep-konsep yang keliru. Konseling sangat
diperlukan tatkala masalah itu belum ada namun ada kemungkinan bisa muncul maka
perlu sekali mengantisipasi, bukan bermasalah baru mencari konselor.
Seorang konselor
Kristen mencoba melakukan pelayanan konseling melalui bidang ilmu psikologi dan
konseling dan mengintegrasikan firman Tuhan kedalam hidup real mereka, namun
tetap saja banyak anggapan bahwa konselor itu secular tidak alkitabiah,
sehingga bagi mereka cukup melakukan firman Tuhan dan berdoa cukup. Saya setuju
Firman Tuhan yah dan amin namun dalam melakukannya tidaklah mudah karena akan
berbenturan dengan kemanusiaan seseorang, maka alangkah baiknya jika
penyampaian firman Tuhan itu melalui pendekatan psikologi sehingga lebih mudah
di cerna secara perasaan melalui
konseling, namun sangat sedikit mereka yang bisa mengerti hal ini, ini sangat
menyedihkan hati konselor Kristen
Apakah
semua itu membuat kita mundur dari pelayanan. Tidak ……, pelayanan kita adalah
pelayanan kemanusiaan membantu mereka menemukan masalah mereka dan biarkan
mereka selesaikan masalah itu didalam Tuhan. Konselor kristen hanyalah
kepanjangan tangan Tuhan dalam melayani umatnya.
Setiap
bidang dalam melayani masyarakat ada suka dan dukanya, dan biarlah kedua ini
menjadi kekuatan seseorang dalam melayani sesamanya. TUHAN MEMBERKATI.
Wednesday, December 25, 2019
Wednesday, December 18, 2019
Thursday, May 30, 2019
Antara Istri dan Mama
Masalah yang terjadi antara istri dan mama adalah masalah yang
sering kali terjadi dalam kehidupan kebanyakan rumah tangga. Tidak sedikit
rumah tangga yang berakhir dengan perceraian karena munculnya persoalan ini
dalam rumah tangganya. Namun ada pula yang terus bergumul dengan persoalan ini
sehingga rumah tangga mereka berjalan dengan terseok-seok, hidup tidak layaknya
sebagai sebuah keluarga banyak perang dingin dan konflik didalamnya.
Apakah permasalahan yang sesungguhnya sehingga masalah ini
menjadi begitu krusial dan terjadi di banyak keluarga. Umumnya karena
permasalahan pengertian tentang pernikahan yang berurusan dengan perasaan.
Maksudnya banyak mereka yang menikah tetapi tidak jelas akan konsep menikah
secara kekristenan dan tidak tahu bagaimana menjalankan apa yang firman Tuhan
katakan / role pernikahan yang di laksanakan. Permasalahan muncul tidak saja di
sebabkan oleh mereka berdua suami istri namun juga melibatkan oran tua dan
mertua dengan pengenalannya.
Berdasarkan pada Alkitab Perjanjian Lama pasal 2 mengenai
konsep pernikahan di ayat 24 dan seterusnya bahwa suatu saat nanti mereka akan
meninggalkan orang tua mereka dan bersatu dengan pasangannya untuk menyatukan
diri menjadi satu daging dan apa yang disatukan oleh Allah ini tidak dapat
dipisahkan oleh manusia. Hal ini jelas menajarkan pada setiap manusia bahwa relasi
yang paling lekang dan erat adalah pasangan kita. Karena ada saatnya kita harus
meninggalkan orang tua kita dan bersatu dengan pasangan kita. Saat kita
meninggalkan orang tua kita memberi kita kesadaran bahwa hidup saya kedepan
adalah bersama dengan pasangan saya seumur hidup saya, jauh lebih panjang
waktuya dibanding hidup dengan orang tuaku dulu, dan kita tidak dapat
memisahkan diri dengan pasangan kita sampai maut memisahkan kita.
Banyak orang keliru dalam menanggapi konsep ini, Alkita tidak
pernah mengatakan bahwa berarti kita putus hubungan dengan orang tua, karena
ada ayat lain yang menyatakan kepada kita hormatilah ayah ibumu seumur hidupmu.
Berarti ada perbedaan relasi yang terjadi sekarang antara saya dengan orang tua
saya. Jika dulu saya adalah bagian dari anggota keluarga ayah saya dengan
predikat anak sekarang saya adalah kepala dari keluarga saya sendiri dengan
anak-anak saya kelak, dan relasi saya sekarang dengan orang tua saya adalah
relasi antar 2 keluarga. Konsep ini juga mempunya arti bahwa kita telah menjadi
dewasa dan lepas dari pengaruh orang
tua, kita sudah harus bisa menjalankan keluarga kita sendiri, lepas dari
pengaruh campur tanga orang tua, namun orang tua atau mertua masih menjadi mentor yang boleh
memberikan masukkan kepada kita sebagai orang yang kita hormati.
Konsep diatas tidak hanya harus dimengerti oleh pasangan suami
istri ini saja tetapi juga dimengerti oleh mereka sebagai orang tua maupun
mertua. Dengan pengertian yang benar dan jelas maka permasalahan diatas akan
sangat bisa dihindari.
Permasalahan umumnya terjadi tatkala berkenaan dengan
perasaan, perasaan bahwa orang tua yang sudah melahirkan kita dan memelihara kita
maka haruslah kita berbakti kepada mereka. Dalam hal ini benar kita harus
berbakti dan menghormati serta mencintai mereka, namun harus hati-hati tatkala
berbenturan dengan relasi keluarga inti kita yaitu dengan pasangan kita. Kita
tidak bisa untuk menjalin relasi agar terlihat menghormati orang tua lalu kita
mengabaikan pasangan kita dan menjadikan pasangaan kita orang nomor dua. Ingat
Tuhan menyatukan kita dengan pasangan kita menjadi satu daging yang lekat dan
paling lekat berarti dalam hidup kita tidak ada yang terpenting selain pasangan
kita sendiri.
Orang tua perlu menyadari bahwa anak mereka sudah berkeluarga
dan bersatu dengan pasangannya dan tidak lagi boleh mempengaruhi anaknya dan
kehidupan keluarga anaknya. Mereka tidak bisa menekankan kepada anak untuk taat
kepada orang tua jika tidak durhaka hanya untuk memenuhi impiannya dalam
kehidupan ini. Sebaliknya anak-anak tidak bisa karena sedemikian eklusifnya
hubungan dengan pasangan lalu mengabaikan orang tuanya dan tidak memperdulikan
orang tuanya. Disinilah kita memerlukan kebijaksanaan dari Tuhan untuk
bagaimana berlaku menyikapi hal ini.
Alkitab sebenarnya sudah mengatur bagaimana seharusnya kita
hidup baik dalam berkeluarga maupun dalam kehidupan sosial kita. Pengertian dan
pengenalan firman akan membantu kita menjalani hidup ini dan menghindari semua
polemic yang mungkin saja terjadi.
Thursday, May 16, 2019
Menyikapi masa Pensiun bagi Rohaniwan
Pensiun adalah sebuah kata yang cukup menggetarkan bagi
kebanyakan orang. Masa pensiun dirasa seakan masa yang penuh dengan ketakutan
dan kemunduran di segala bidang. Banyak orang tidak siap memasuki masa pensiun
ini karena beberapa hal yaitu:
·
Masa dimana seseorang akan kehilangan
kekuasaannya
·
Masa dimana seseorang dipaksa untuk menerima
kondisi bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan sudah harus diganti oleh mereka
yang lebih muda
·
Masa dimana tubuh sudah mulai melemah dan mulai
banyak berurusan dengan sakit penyakit
·
Masa dimana seseorang sedikit demi sedikit mulai
dilupakan akan keberadaannya.
·
Masa dimana orang tersebut kemungkinan
memerlukan orang lain dan tidak lagi bisa mandiri
·
Masa dimana ia mulai merasa kesepian
·
Dan banyak hal menakutkan lainnya yang masih
bisa kita telaah dan kita rasakan.
Perasaan memasuki usia pensiun ini mengusik semua lapisan
masyarakat siapapun dia, tidak terkecuali seorang rohaniwan.
Mari kita perhatikan masalah pensiun ini dengan keberadaan
seorang rohaniwan. Rohaniwan adalah suatu predikat yang diberikan kepada mereka
yang mengabdikan dirinya untuk Tuhannya, melayani Tuhan dengan seluruh waktu
hidupnya dan itu bukanlah suatu profesi.
Menjadi rohaniwan adalah suatu panggilan, karena tidak serta
merta setiap orang bisa menjadi seorang rohaniwan tetapi melalui suatu proses
panggilan dalam hidupnya untuk menyerahkan waktu dan hidupnya hanya untuk melakukan
pekerjaan TUhan dan melayaniNYA.
Didalam panggilannya inilah seorang rohaniwan memasuki institusi
dimana ia terpanggil, misalnya di bidang pendidikan, ia dapat menjadi seorang
dosen teologia di institusi sekolah teologia, seorang guru agama Kristen di
sekolah-sekolah Kristen, di bidang penggembalaan ia akan masuk ke institusi
gereja, ada yang terpanggil menjadi pendeta yang menggembalakan, ada yang
menjadi penginjil atau seorang pengajar didalam gereja atau dalam bidang-bidang
tertentu lainnya. Semua itu adalah predikat dalam panggilannya, sekali lagi
bukan profesinya.
Jadi sebagai seorang rohaniwan ia menjalani predikatnya
sebagai hamba yang melayani Allah di institusi yang Tuhan tempatkan baginya dan
disitulah ia mengembangkan semua panggilan dan talentanya dalam pelayanannya.
Karena ia ada dalam satu institusi dalam melayani Tuhan maka ia akan
mendapatkan juga tunjangan utuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dalam hal ini memang ada sedikit perbedaan dengan mereka yang
bekerja dalam satu instansi untuk berkarier dengan profesi tertentu, maka
imbalan yang mereka dapatkan adalah upah dari profesi mereka untuk apa yang
mereka lakukan. Dan karier ini dapat terus di kejar utuk mendapatkan upah yang
lebih besar sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam hal ini sedikit berbeda
dengan panggilan sebagai seorang rohaniwan. Yang dikejar oleh mereka para rohaniwan bukanlah profesi tetapi maksimal
pelayanannya yang efektif untuk menjangkau mereka kepada Kristus.
Jika kita melihat hal seperti ini maka seorang Rohaniwan
seharusnya tidaklah memikirkan mengenai upah. Mereka yang duduk dan berwenang dalam instansilah yang memikirkan kebutuhan
hidup mereka dan mencukupinya. Oleh karena itu seorang Rohaniwan berbeda dengan
seorang professional secular yang mengejar materi untuk mencukupi kehidupannya.
Berdasarkan hal ini maka tatkala seorang rohaniwan di suatu
instansi memasuki usia pensiun akan menghadapi pelbagai pergumulan untuk
menyiasati memasuki usia pensiun itu. Rohaniwan juga akan banyak memikirkan
bagaimana kehidupannya kelak jika memasuki masa itu, bagaimana kehidupan
anak-anak, study dan hidup mereka sehari-hari. Masa inilah masa yang penuh
tantangan. Mereka bisa saja tergeser dari panggilannya dan menempatkan dirinya
dan predikatnya kearah profesi dan mencoba untuk memenuhi lumbung-lumbungnya
sebagai persiapan di masa pensiun nanti.
Seorang rohaniwan itu adalah predikat, panggilannya dan tidak
berkesudahan, tidak ada batas masa berlakunya sampai Tuhan memanggil mereka.
Yang membatasi adalah keterlibatannya dalam suatu instansi yang menaunginya.
Seorang rohaniwan harus menyadari itu adalah panggilan dari Allah dan Allahlah
yang akan terus menjaga dan memelihara hidupnya. Walaupun ia telah
menyelesaikan tugasnya dalam salah satu instansi itu bukan berarti predikatnya
sebagai rohaniwan selesai, ia tetap menjalani panggilan pelayanannya dalam seluruh
hidupnya. Yang membedakannya adalah tidak lagi mendapat tunjangan kehidupan
dari instansi tersebut dan inilah sesungguhnya yang menakutkan bagi para
rohaniwan, bagaimana mereka harus meneruskan hidupnya?
Sebagai seorang rohaniwan maka seumur hidup harus selalu
mengingat panggilannya dan belajar selalu hidup mencukupkan diri dengan apa
yang Tuhan beri, dalam kesederhanaan, kecukupan, tidak berkemewahan dan
mengikuti arus dunia. Walau kadang-kadang hal itu tidak dapat dihindari dalam
pelayanan sehari-hari saat melayani di tempat tertentu dan orang-orang tertentu
seorang rohaniwan akan menikmati banyak kemewahan namun seharusnya kita harus
selalu sadar bahwa itu bukan tempat kita, itu hanyalah anugrah yang Tuhan beri
bisa kita cicipi dalam hidup ini, namun sesungguhnya kita hanyalah alat
ditanganNYA.
Oleh karena itu sebagai sesama rohaniwan sayapun ingin terus
belajar melihat panggilan Tuhan dalam hidupku dan belajar menerima keberadaanku
yang adalah alat di tangan Tuhan yang kadang Tuhan beri kenikmatan, kemewahan
namun seharusnya kita justru harus hidup dalam kesederhanaan dan kecukupan ( humble
and simplicity). Sikap seperti inilah yang akan memberi kita kemampuan untuk
menghadapi masa pensiun kita kelak.
Bahwa kedudukan saya sekarang itu bukan apa-apa sehingga tidak
perlu saya pertahankan namun saya harus memiliki hati siap untuk melepaskannya
kepada mereka yang muda dan lebih berkemampuan dari kita. Menerima diri bahwa
kita sudah harus melepaskan tongkat estafet ini dengan hati leluasa dan bangga
bahwa kita sudah mewariskan kepada generasi penerus kita suatu contoh teladan
pelayanan yang baik. Kita boleh bersyukur selama melayani Tuhan sudah TUhan
ijinkan menikmati beberapa hal kemewahan atau kenikmatan namun sesungguhnya
itulah anugrah dan saatnya kita kembali kepada kita yang sesungguhnya menikmati
hidup bersama Tuhan dalam kesederhanaan.
Mari kita bersama terus mengingat akan panggilan kita dan
percaya Tuhan akan pelihara kita, yang penting janganlah kita lupa siapa kita
dan terus ingin hidup diatas, akan tiba waktunya orang akan perlahan melupakan
kita, melupakan siapa kita, apa yang telah kita lakukan namun ingatlah Tuhan
tidak pernah melupakan kita. Oleh karena itu marilah kita mengakhiri semua
pelayanan panggilan kita dengan baik. Tuhan tidak melihat awal panggilan
pelayanan kita tetapi Tuhan melihat bagaimana kita mengakhiri perjalanan
pelayanan kita.
Monday, December 17, 2018
Menikmati kebersamaan
Dengan semakin bertambahnya usia seseorang semakin bertambahnya pengalaman hidupnya dan juga kenangan dalam relasinya didalam perjalanan hidupnya.
Tahun ini sudah hampir mendekati akhir dari 2018, segala rencana muncul untuk mengisi kenangan diakhir 2018 ini.
Aku sangat bersyukur kepada Tuhan dapat menikmati hidup sampai saat ini dimana setelah mengalami sakit yang cukup berat dan meliwati masa kritis, ini adalah kesempatan ke 2 yang Tuhan berikan kepadaku.
Sejak peristiwa itu banyak hal yang kulalui ku kenang baik baik, dan setiap kesempatan selalu berusaha mengambil sebagai kenangan dalam hidup yang tidak boleh di sia-siakan.
Di Desember ini aku ingin sekali mengunjungi kakak sepupuku yang sedang sakit Cancer di Macau dan juga ayahnya, yang semasa dulu begitu dekat dengan aku kini sedang sakit tua. Ada kerinduan berjumpa dengan mereka dan semua kenangan masa lalu bersama dengan mereka dan almarhumah tanteku terbayang jelas dimata sehingga semakin menambah keinginan untuk bertemu. Karena aku merasa waktu tidak ada seorangpun yang tahu, selagi ada kesempatan maka ambil kesempatan itu.
Bertepatan dengan itu dengan majunya teknologi aku tersambung kembali dengan teman teman semasa SD dan SMP dan berulang kali terjadi kontak dan saling mengunjungi. Inipun merupakan anugrah luar biasa yang Tuhan ijinkan sehingga kembali merajut pertemanan dengan teman masa kecil ini.
ada kerinduan dari teman teman untuk bisa mengadakan perjalanan bersama sambil mengenang masa persahabatan maka tercetuslah akan mengadakan perjalanan reuni.
Tuhan sungguh baik tujuan yang di pilih oleh teman teman adalah Hongkong dan Macau, berarti aku dapat menikmati ke duanya, reuni bersama dengan teman sekaligus mengunjungi Om dan sepupuku yang sedang terbaring sakit, singkat kata akhirnya Tuhan ijinkan semua itu dapat aku alami dan nikmati.
Terima kasih Tuhan untuk semua pertemanan dan kesempatan yang Tuhan ijinkan boleh aku nikmati dalam hidup ini, berkati kami semua dan juga untuk kesehatan kami semua.
amiiiiiiin.
Tahun ini sudah hampir mendekati akhir dari 2018, segala rencana muncul untuk mengisi kenangan diakhir 2018 ini.
Aku sangat bersyukur kepada Tuhan dapat menikmati hidup sampai saat ini dimana setelah mengalami sakit yang cukup berat dan meliwati masa kritis, ini adalah kesempatan ke 2 yang Tuhan berikan kepadaku.
Sejak peristiwa itu banyak hal yang kulalui ku kenang baik baik, dan setiap kesempatan selalu berusaha mengambil sebagai kenangan dalam hidup yang tidak boleh di sia-siakan.
Di Desember ini aku ingin sekali mengunjungi kakak sepupuku yang sedang sakit Cancer di Macau dan juga ayahnya, yang semasa dulu begitu dekat dengan aku kini sedang sakit tua. Ada kerinduan berjumpa dengan mereka dan semua kenangan masa lalu bersama dengan mereka dan almarhumah tanteku terbayang jelas dimata sehingga semakin menambah keinginan untuk bertemu. Karena aku merasa waktu tidak ada seorangpun yang tahu, selagi ada kesempatan maka ambil kesempatan itu.
Bertepatan dengan itu dengan majunya teknologi aku tersambung kembali dengan teman teman semasa SD dan SMP dan berulang kali terjadi kontak dan saling mengunjungi. Inipun merupakan anugrah luar biasa yang Tuhan ijinkan sehingga kembali merajut pertemanan dengan teman masa kecil ini.
ada kerinduan dari teman teman untuk bisa mengadakan perjalanan bersama sambil mengenang masa persahabatan maka tercetuslah akan mengadakan perjalanan reuni.
Tuhan sungguh baik tujuan yang di pilih oleh teman teman adalah Hongkong dan Macau, berarti aku dapat menikmati ke duanya, reuni bersama dengan teman sekaligus mengunjungi Om dan sepupuku yang sedang terbaring sakit, singkat kata akhirnya Tuhan ijinkan semua itu dapat aku alami dan nikmati.
Terima kasih Tuhan untuk semua pertemanan dan kesempatan yang Tuhan ijinkan boleh aku nikmati dalam hidup ini, berkati kami semua dan juga untuk kesehatan kami semua.
amiiiiiiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)






