Keluarga adalah suatu tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita untuk dikerjakan dan dinikmati. Oleh karena itu setiap mereka yang ingin berkeluarga harus berani Bertanggung jawab dalam berkeluarga dan Tuhan akan memberikan anugrah kepada mereka untuk menikmatinya.
Wednesday, August 19, 2015
Gagal Ginjal menggoncangkan.......!
Tuesday, January 6, 2015
Perenungan Awal tahun
Thursday, November 20, 2014
Ketika waktu berjalan begitu cepat......
Suatu ketika saat aku seorang diri, pikiran melayang layang mundur ketahun tahun dulu dalam kehidupan. Begitu senang mengenang masa-masa saat kecil, semua menyenangkan kehidupan dalam keluarga besar kami 6 orang anak-anak dengan papa dan mama yang selalu berkumpul tiap malam di beranda rumah kami yang kecil.
Ada saat kami duduk bercengkrama sambil menikmati minuman ringan saat itu yaitu limun atau sarsaparilla yang sekarang sudah tidak ada lagi. Kadang disaat malam kami bersama memesan mie tek tek didepan rumah dan dimakan beramai-ramai semua sangat menyenangkan.
Tanpa terasa semua itu sdh terjadi lebih dari 40 tahun yang lalu. Satu persatu pengalaman dalam relasi kakak adik terbentang seperti layar film yang terus memutar filmnya. Kenangan demi kenangan tergali sangat menyenangkan.
Namun aku disadari aku kini telah menjelang usia senja, setengah abad telah kulalui hidup ini, kakak beradik sudah hidup sendiri sendiri dengan keluarganya bahkan kami sudah jarang berkumpul bersama. Papapun sudah lama meninggalkan kami berpulang keSurga. Kami hanya mempunyai mama yang masih hidup sampai saat ini. Aku disadarkan bahwa 2 adik pun telah berpulang keSurga, ah..... cepat sekali waktu berlalu, kenangan masa lalu tinggalah kenangan yang rasanya baru saja terjadi dan ingin sekali mengulanginya lagi.Sekarang kami harus terus berjuang membahagiakan mama yang masih hidup dan berjuang masing-masing untuk keluarga. Kesadran ini mambawa aku ingat akan firman Tuhan bahwa hidup manusia ini benar benar singkat dan cepat sekali berlalu dan ketika ini berlalu hanyalah sisa kenangan dan paling lama hanya akan dikenang sampai 2 keturunan setelah itu tidak ada lagi yang mengenalnya. Memang tempat kita bukanlah didunia ini tempat kita adalah di Surga yang penuh kebahagiaan kesanalah sekarang kita sedang berjalan menanti waktu kita masing-masing.
Isilah semua kenagan hidup dengan indah agar indah untuk di kenang.
Ketika Merasa Tuhan jauh
Sunday, March 23, 2014
PERGUMULAN
Tuesday, March 18, 2014
Memberi dan diberi
Wednesday, February 19, 2014
Sebulan Mama meninggalkan kami
Hari terus berjalan, menapak tiada henti detik demi detik, menit demi menit, jam jam pun berlalu bahkan hari berlari meninggalkan jejak sebulan telah berlalu.
Sebulan Engkau telah kembali kepangkuan Bapa di Surga, sebulan Enkau telah meninggalkan kami semua. Masih terbayang kata-katamu: kamu tidak ingin pergi meninggalkan kami karena mau lebih lama bersama dengan kami, padahal waktu perpisahan itu kentara semaki mendekat. Hati kami berdegub menanti hari itu dan kaupun mengejar waktu untuk selalu meminta kami lebih sering datang menengokmu selagi bisa. Engkau adalah mama mertua yang perhatian dihari mendekati akhir hidupmu saat kau sakit menderita diantara kesadaranmu kita mengobrol, dan perhatianmu adalah pada kesehatanku padahal kamupun sedang berjuang dengan penyakit tua yang menggerogotimu.
Mama yang kami kasihi, teringat ketika kita bersama tinggal di Jakarta ditempat kami, dirumah yang kecil kita selalu bercampur bersama dikamar, kadang hatiku kesal ada saat merasa terganggu tetapi semua itu sekarang sirna dan tertinggal kenangan belaka.
Mama sebulan sudah kita berpisah, kami tahu Engkau berbahagia disana dengan penciptaMu dan berkumpul dengan papa dan koko cici yang telah mendahului kesana.
Ma saat kami akan melarung sisa fisikmu kelaut menjadi kenangan dalam hati kami yang tak akan lekang oleh zaman bahwa pernah ada didunia ini yang bernama Jap Siok Nio atau Nyonya Lie Wan Lung yang menjadi mama dari istriku dan mama mertuaku.
Selamat jalan mama, selamat menikmati kekekalan bersama Tuhan di Sorga, sampai kita bertemu kembali di sorga sana
Anak dan mantumu: Lie Weijen dan Julimin si Musafir Girang.
ditulis saat sebulan mama meninggal